/* Banner Iklan 125x125 */ #spotbanner{ overflow: hidden; padding:0; } .ad1, .ad3 { float: left; margin-bottom: 5px; padding-left:0px; } .ad2, .ad4 { float: right; margin-bottom: 5px; padding-right:0px; }

Kamis, 10 Februari 2011

PEMBELAJARAN REMIDI MELALUI TUTOR SEBAYA KEGIATAN KELAS YANG MENYENANGKAN SISWA


Sri Handayani


Abstract: Understanding concept of student in learning activity is shown by the score of mastery learning, either individually or classically. If the score passing grade minimum standards, it shows the formulated goals in a plan of teaching and learning are achieved. On the other hand, when the passing echievement score are not reached the minimum, its needed afforts improving leaning results. One of the efforts is to implement remedial learning. Learning is intended to give enrichment and remedy to students who find difficulties. The implementation of it can be done with the peer teaching. Peer teaching through guiding comes from friends in class who have heigher achievemnent. The tutorial is done in groups of 4-5 students. At the end of tutor activity is peer assessment that aims to measure the student’s anxiety. Teacher, in peer tutor acts as facilitator to learn materials in group. Since guided friend by leading contemporary, the completeness score can be improved so that the class atmosphere is very fun and enjoyful so student are very anthusaistic to lear.

Keywords: understanding the concept, repeated instruction, study groups, friends in the class.


PENDAHULUAN  
Sebagaimana diketahui bersama bahwa dalam setiap kegiatan pembelajaran masih sering terjadi kesenjangan antara tujuan yang dirumuskan dengan hasil proses pembelajaran. Pembelajaran bertujuan mengembangkan aktivitas siswa yang ditunjukkan dalam rumusan standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam rencana program pengajaran yang diimplementasikan dalam indikator pencapaian hasil belajar siswa. Hasil proses pembelajaran ditunjukkan oleh tingkat penguasaan dan daya serap siswa baik individu maupun klasikal. Sitti Rahmawaty (2007) menyatakan bahwa daya serap siswa sebagai ukuran ketuntasan belajar individu  minimal 70 % sedangkan penguasaan klasikal minimal 60 %.  Untuk mencapai standar ketuntasan minimal diperlukan cara-cara dan aktivitas yang dapat dilakukan sehingga tujuan pembelajaran tercapai, dan jika memungkinkan skor siswa bertambah rata-ratanya. (http://www.oke.or.id)
Aktivitas nyata yang dapat dilakukan adalah menggunakan model–model pembelajaran yang bervariatif melalui penggabungan berbagai model atau melakukan pengulangan pembelajaran sebagai bentuk pengajaran remidi. Fakta dan data lain tentang proses pembelajaran adalah banyak siswa yang nilai rata-rata ujian akhir nasional masih di bawah standar kelulusan siswa.  Berdasarkan kenyataan ini setiap komponen yang terlibat dalam pembelajaran diharapkan saling berkordinasi untuk meningkatkan nilai rata-rata ujian akhir nasional.  Koordinasi yang baik berakibat tidak ada saling menyalahkan di antara sesama komponen pembelajaran.
Menurut Sawali (2007) rendahnya rata-rata nilai ujian yang dicapai oleh siswa disebabkan oleh tiga hal. Pertama, kurangnya motivasi siswa untuk meraih nilai akademis yang tinggi. Hal itu disebabkan oleh situasi dan kondisi pendidikan dalam lingkungan keluarga yang kurang mendukung. Kedua, merebaknya sikap instan yang melanda kehidupan kaum remaja. Hal ini disebabkan oleh adanya sikap permisif masyarakat yang cenderung membiarkan berbagai perilaku anomali sosial berlangsung di tengah-tengah panggung kehidupan sosial. Masyarakat yang seharusnya menjadi kekuatan kontrol untuk ikut menanggulangi berbagai persoalan sosial yang kurang sehat cederung bersikap permisif dan masa bodoh. Sikap instan yang ingin meraih sukses tanpa kerja keras dinilai sebagai hal yang wajar terjadi. Ketiga, guru dinilai kurang kreatif dalam melakukan inovasi pembelajaran, baik dalam pemilihan materi ajar, metode pembelajaran, maupun media pembelajaran, sehingga siswa cenderung pasif dan bosan dalam menghadapi suasana pembelajaran di kelas. Kelas ibarat ”penjara” yang pengap dan sumpek; tanpa ada celah “kebebasan” bagi peserta didik untuk menikmati kegiatan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Yang lebih mencemaskan adalah bahwa siswa bagaikan “tong sampah” ilmu pengetahuan yang hanya sekadar menjadi penampung ilmu, tanpa memiliki kesempatan untuk melakukan pendalaman, refleksi, dan dialog.
Matematika merupakan mata pelajaran yang diujikan dalam ujian akhir nasional di semua satuan pendidikan. Dengan adanya fakta dan kenyataan rendahnya nilai rata-rata siswa, diperlukan sebuah inovasi pembelajaran dan bahkan pengulangan materi di kelas menjadi sangat penting.  Di samping itu, pembelajaran harus di arahkan agar dapat membangkitkan kreativitas siswa misalnya melalui belajar kelompok. Dalam belajar kelompok, siswa dapat berdiskusi satu sama lain, siswa dapat bertukar informasi dan siswa yang pintar dapat membantu siswa yang kurang pintar. Untuk itu perlu dicari pemecahan masalah dalam menentukan strategi pembelajaran yang tepat, dengan tetap mempertimbangkan kondisi-kondisi dalam kelas. Semuanya dimaksudkan untuk memperoleh pendekatan pembelajaran yang tepat bagi.  Hal ini sesuai dengan pendapat Aria Djalil ( 1997) yang menyatakan bahwa setiap saat siswa  memerlukan bantuan dari siswa lainnya, dan siswa dapat belajar dari siswa  lainnya. Demikian juga siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan karena dia bergaul dengan teman lainnya.  
Usaha-usaha dalam meningkatkan nilai rata-rata ujian juga dapat dilakukan dengan tutor sebaya. Menurut Arikunto (1996) tutor sebaya adalah seseorang atau beberapa orang siswa yang ditunjuk oleh guru sebagai pembantu guru dalam melakukan bimbingan terhadap kawan sekelas. Kadangkala seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawannya karena tidak ada rasa enggan atau malu untuk bertanya.  Kelebihan dari pendekatan tutor sebaya ini adalah dapat melatih siswa dalam memecahkan masalah, mengatasi kesulitannya sendiri dan mampu membimbing diri sendiri. Selain itu karena tutor berasal dari teman sekelasnya siswa tidak merasa malu atau segan untuk bertanya apabila ada hal-hal yang kurang dimengerti dalam proses belajar-mengajar. Melalui tutor sebaya membuat suasana pembelajaran menarik dan menyenangkan ketika. Dalam pelaksanaannya  siswa berdialog dan berinteraksi dengan sesama siswa secara terbuka dan interaktif di bawah bimbingan guru sehingga siswa terpacu untuk menguasai bahan ajar yang disajikan sesuai dengan standar kompetensi lulusan.  Tutor sebaya pada umumnya dilakukan secara kelompok beranggotakan 5-6 siswa. Tutor sebaya adalah siswa di kelas tertentu yang memiliki kemampuan di atas rata-rata anggotanya yang memiliki tugas untuk membantu mengatasi kesulitan anggota dalam memahami materi ajar.

HAKEKAT PEMBELAJARAN REMIDI
Pengertian
Pembelajaran remidi merupakan layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik untuk memperbaiki prestasi belajar sehingga mencapai standar minimal ketuntasan yang ditetapkan. Ahmad Sudrajat (2007) menyatakan bahwa untuk memahami konsep penyelenggaraan model pembelajaran remedial, terlebih dahulu perlu diperhatikan bahwa kurikulum tingkat satuan pendidikan yang diberlakukan berdasarkan peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 22, 23, dan 24 tahun 2006 dan peraturan Menteri Pendidikan Nasional nomor 6 tahun 2007 dengan menerapkan sistem pembelajaran berbasis kompetensi, sistem belajar tuntas, dan sistem pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual peserta didik. (http://www.Ahmadsudrajat.wordpress.com) Sistem tersebut ditandai dengan dirumuskannya secara jelas standar kompetensi  dan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik. Penguasaan standar kompetensi dan kompetensi dasar setiap siswa diukur dengan menggunakan sistem penilaian acuan kriteria. Siswa yang mencapai standar tertentu dinyatakan telah mencapai ketuntasan.
Pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, dimulai dari penilaian kemampuan awal siswa terhadap kompetensi atau materi yang dipelajari. Kemudian dilaksanakan pembelajaran dengan menggunakan berbagai metode yang sesuai dengan topik pembelajaran, misalnya untuk matematika dengan menggunakan metode diskusi, demonstrasi, pembelajaran kolaboratif dan kooperatif, inkuiri, atau metode penemuan. Untuk melengkapi metode pembelajaran dapat digunakan berbagai media, misalnya audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format. Format yang digunakan mulai dari kaset audio, slide, video, LCD, komputer, atau multimedia. Di tengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, diadakan penilaian proses dengan menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan siswa terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari.
Pada akhir program pembelajaran diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar siswa, apakah seorang siswa gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan tertentu yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan. Apabila dijumpai ada siswa yang tidak mencapai penguasaan kompetensi yang telah ditentukan, maka muncul permasalahan mengenai apa yang harus dilakukan oleh pendidik. Salah satu tindakan yang diperlukan adalah pemberian program pembelajaran remedial atau perbaikan. Dengan kata lain, pembelajaran remedial diperlukan bagi siswa yang belum mencapai kemampuan minimal yang ditetapkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Pemberian program pembelajaran remedial didasarkan atas latar belakang bahwa pendidik perlu memperhatikan perbedaan individual siswa.  
Pembelajaran remidi yang diberikan kepada siswa yang belum mencapai tingkat ketuntasan belajar, memerlukan waktu lebih lama dibandingkan dengan siswa yang telah mencapai tingkat penguasaan.  Dalam hal lain siswa perlu menempuh penilaian kembali setelah mendapatkan program pembelajaran remedi.
Pembelajaran remidi merupakan pemberian perlakuan khusus terhadap siswa yang mengalami hambatan dalam kegiatan belajarnya. Hambatan yang terjadi dapat berupa kurangnya pengetahuan dan keterampilan prasyarat atau lambat dalam mecapai kompetensi. Prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran remedi sesuai dengan sifatnya sebagai pelayanan khusus adalah adaptif, interaktif,  fleksibilitas,  pemberian umpan balik sesegera mungkin,  dan berkesinambungan dalam pemberian pelayanan.  Adaptif dimaksudkan karena setiap siswa bersifat unik. Oleh karena itu program pembelajaran remedi hendaknya memungkinkan siswa untuk belajar sesuai dengan kecepatan, kesempatan, dan gaya belajar masing-masing. Dengan kata lain, pembelajaran remedi harus mengakomodasi perbedaan individual siswa. Interaktif dimaksudkan karena pembelajaran remedi hendaknya memungkinkan siswa untuk secara intensif berinteraksi dengan pendidik dan sumber belajar yang tersedia. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa kegiatan belajar siswa yang bersifat perbaikan perlu selalu mendapatkan monitoring dan pengawasan agar diketahui kemajuan belajarnya. Jika dijumpai ada peserta didik yang mengalami kesulitan segera diberikan bantuan. Fleksibilitas dalam Metode Pembelajaran dan Penilaian, artinya sejalan dengan sifat keunikan dan kesulitan belajar siswa yang berbeda-beda, maka dalam pembelajaran remedi perlu digunakan berbagai metode mengajar dan metode penilaian yang sesuai dengan karakteristik siswa. Pemberian Umpan Balik Sesegera Mungkin berupa informasi yang diberikan kepada siswa mengenai kemajuan belajarnya perlu diberikan sesegera mungkin. Umpan balik dapat bersifat korektif maupun konfirmatif. Dengan sesegera mungkin memberikan umpan balik dapat dihindari kekeliruan belajar yang berlarut-larut yang dialami siswa. Kesinambungan dan Ketersediaan dalam Pemberian Pelayanan lebih menekankan bahwa pembelajaran remedi merupakan satu kesatuan. Dengan demikian program pembelajaran reguler dengan remedi harus berkesinambungan dan programnya selalu tersedia agar setiap saat siswa dapat mengakses sesuai dengan kesempatan.
Pembelajaran remidi pada hakikatnya adalah pemberian bantuan kepada  siswa yang mengalami kesulitan atau kelambatan belajar. Sehubungan dengan itu, langkah-langkah yang perlu dikerjakan dalam pemberian pembelajaran remedi meliputi dua langkah pokok, yaitu mendiagnosis kesulitan belajar, dan memberikan perlakuan pembelajaran remedi. Diagonosis kesulitan belajar dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesulitan belajar siswa. Kesulitan belajar dapat dibedakan menjadi kesulitan ringan, sedang dan berat.  Kesulitan belajar ringan biasanya dijumpai pada siswa yang kurang perhatian pada saat mengikuti pembelajaran. Kesulitan belajar sedang dijumpai pada siswa yang mengalami gangguan belajar yang berasal dari luar dirinya, misalnya faktor keluarga, lingkungan tempat tinggal, pergaulan. Kesulitan belajar berat dijumpai pada siswa yang mengalami ketunaan pada diri mereka, misalnya tuna rungu, tuna netra¸tuna daksa, dan tuna grahita.
Teknik yang dapat digunakan untuk mendiagnosis kesulitan belajar antara lain: Tes prasyarat adalah tes yang digunakan untuk mengetahui apakah prasyarat yang diperlukan untuk mencapai penguasaan kompetensi tertentu sudah terpenuhi atau belum. Prasyarat ini meliputi prasyarat pengetahuan dan prasyarat keterampilan. Tes diagnostik digunakan untuk mengetahui kesulitan siswa dalam menguasai kompetensi tertentu. Misalnya dalam mempelajari operasi bilangan, apakah peserta didik mengalami kesulitan pada kompetensi penambahan, pengurangan, pembagian, atau perkalian. Wawancara dilakukan dengan mengadakan interaksi lisan dengan siswa untuk menggali lebih dalam mengenai kesulitan belajar yang dijumpai peserta didik. Pengamatan  dilakukan dengan jalan melihat secara cermat perilaku belajar siswa. Dari pengamatan tersebut diharapkan dapat diketahui jenis dan penyebab kesulitan belajar siswa.

Bentuk Pelaksanaan Pembelajaran Remidi
Setelah diketahui kesulitan belajar yang dihadapi siswa, langkah berikutnya adalah memberikan perlakuan berupa pembelajaran remidi. Bentuk-bentuk pelaksanaan pembelajaran remedial adalah sebagai berikut.  
Pertama adalah pemberian pembelajaran ulang dengan metode dan media yang berbeda. Pembelajaran ulang dapat disampaikan dengan cara penyederhanaan materi, variasi cara penyajian, penyederhanaan tes atau pertanyaan. Pembelajaran ulang dilakukan bilamana sebagian besar atau semua siswa belum mencapai ketuntasan belajar atau mengalami kesulitan belajar. Pendidik perlu memberikan penjelasan kembali dengan menggunakan metode dan/atau media yang lebih tepat.
Kedua adalah pemberian bimbingan secara khusus, misalnya bimbingan perorangan. Dalam hal pembelajaran klasikal siswa yang mengalami kesulitan, perlu dipilih alternatif tindak lanjut berupa pemberian bimbingan secara individual. Pemberian bimbingan perorangan merupakan implikasi peran pendidik sebagai tutor. Sistem tutorial dilaksanakan bilamana terdapat satu atau beberapa siswa yang belum berhasil mencapai ketuntasan.
Ketiga adalah memberikan tugas-tugas latihan secara khusus. Dalam rangka menerapkan prinsip pengulangan, tugas-tugas latihan perlu diperbanyak agar siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengerjakan tes akhir. Siswa perlu diberi drill  untuk membantu menguasai kompetensi yang ditetapkan.     
Keempat pemanfaatan tutor sebaya. Tutor sebaya adalah teman sekelas yang memiliki kecepatan belajar lebih. Mereka perlu dimanfaatkan untuk memberikan tutorial kepada rekannya yang mengalami kelambatan belajar. Dengan teman sebaya diharapkan siswa yang mengalami kesulitan belajar akan lebih terbuka dan akrab.
Waktu pelaksanaan pembelajaran remidi mempunyai beberapa alternatif. Pertanyaan yang timbul, apakah pembelajaran remidi diberikan pada setiap akhir ulangan harian, mingguan, akhir bulan, tengah semester, atau akhir semester. Ataukah pembelajaran remidi diberikan setelah siswa mempelajari standar kompetensi atau kompetensi dasar tertentu? Pembelajaran remidi dapat diberikan setelah siswa mempelajari komptensi dasar tertentu. Namun,  karena dalam setiap standar kompetensi terdapat beberapa kompetensi dasar,  maka terlalu sulit bagi pendidik untuk melaksanakan pembelajaran remidi setiap selesai mempelajari kompetensi dasar tertentu. Mengingat indikator keberhasilan belajar siswa adalah tingkat ketuntasan dalam mencapai standar kompetensi yang terdiri dari beberapa kompetensi dasar, maka pembelajaran remedial dapat juga diberikan setelah siswa menempuh tes standar kompetensi yang terdiri dari beberapa kompetensi dasar. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa standar kompetensi merupakan satu kebulatan kemampuan yang terdiri dari beberapa kompetensi dasar.  Mereka yang belum mencapai penguasaan standar kompetensi tertentu perlu mengikuti program pembelajaran remidi. Hasil belajar yang menunjukkan tingkat pencapaian kompetensi melalui penilaian diperoleh dari penilaian proses dan penilaian hasil. Penilaian proses diperoleh melalui postes, tes kinerja, observasi, dan lain-lain, sedangkan penilaian hasil diperoleh melalui ulangan harian, ulangan tengah semester,  dan ulangan akhir semester.

Sitem Tutor Sebaya
Istilah lain tutor sebaya adalah peer tutoring. Ahli-ahli pendidikan yang memelopori tutor sebaya adalah Edward L. Dejnozken dan David E. Kopel. Dalam American Education Encyclopedia disebutkan  bahwa tutorial  sebaya adalah sebuah prosedur siswa mengajar kepada siswa lainnya. Karena siswa berperan aktif pada siswa lainnya, maka tipe pelaksanaannya mempunyai beberapa jenis. Pertama, pengajar dan pembelajar usianya sama. Kedua pengajar berusia lebih tua dari pembelajar.  Ketiga  dimunculkan pertukaran usia pengajar.
Muntasir (1985) mengemukakan bahwa tutor  berfungsi sebagai tukang atau pelaksana mengajar yang cara mengajarnya telah disiapkan secara khusus dan terperinci. Untuk menghidupkan suasana kompetitif, setiap kelompok harus terus dipacu untuk menjadi kelompok yang terbaik. Oleh karena itu, selain aktivitas anggota kelompok, peran ketua kelompok atau tutor sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan kelompok dalam mempelajari materi ajar yang disajikan. Ketua kelompok dipilih secara demokratis oleh seluruh siswa. Misalnya, jika di suatu kelas terdapat 46 siswa, berarti ada 9 kelompok dengan catatan ada satu kelompok yang terdiri atas 6 siswa. Sebelum diskusi kelompok terbentuk, siswa perlu mengajukan calon tutor. Seorang tutor hendaknya memiliki kriteria memiliki kemampuan akademis di atas rata-rata siswa satu kelas, mampu menjalin kerja sama dengan sesama siswa, memiliki motivasi tinggi untuk meraih prestasi akademis yang baik, memiliki sikap toleransi dan tenggang rasa dengan sesama, memiliki motivasi tinggi untuk menjadikan kelompok diskusinya sebagai yang terbaik, bersikap rendah hati, pemberani, dan bertanggung jawab, dan suka membantu sesamanya yang mengalami kesulitan.
Tutor atau ketua kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab untuk  memberikan tutorial kepada anggota terhadap materi ajar yang sedang dipelajari,  mengkoordinir proses diskusi agar berlangsung kreatif dan dinamis,  menyampaikan permasalahan kepada guru pembimbing apabila ada materi ajar yang belum dikuasai,  menyusun jadwal diskusi bersama anggota kelompok, baik pada saat tatap muka di kelas maupun di luar kelas, secara rutin dan insidental untuk memecahkan masalah yang dihadapi, dan melaporkan perkembangan akademis kelompoknya kepada guru pembimbing pada setiap materi yang dipelajari.
Peran guru dalam metode diskusi kelompok terbimbing model tutor sebaya hanyalah sebagai fasilitator dan pembimbing terbatas. Artinya, guru hanya melakukan intervensi ketika betul-betul diperlukan oleh siswa. Fungsi lainnya adalah dengan adanya tutor sebaya siswa yang kurang aktif menjadi aktif karena tidak malu lagi untuk bertanya dan mengeluarkan pendapat secara bebas.
Sebagaimana diungkapkan oleh Muntasir bahwa dengan pergaulan  antara para tutor dengan siswanya mereka dapat mewujudkan apa yang terpendam dalam hatinya dan khayalannya. Tutor Sebaya merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk membantu memenuhi kebutuhan siswa. Ini merupakan pendekatan kooperatif bukan kompetitif. Rasa saling menghargai dan mengerti dibina di antara peserta didik yang bekerja sama.
Tutor sebaya akan merasa bangga atas perannya dan juga belajar dari pengalamannya. Hal ini membantu memperkuat apa yang telah dipelajari dan diperolehnya atas tanggung jawab yang dibebankan kepadanya. Ketika mereka belajar dengan “tutor sebaya”, peserta didik juga mengembangkan kemampuan yang lebih baik untuk mendengarkan, berkonsentrasi, dan memahami apa yang dipelajari dengan cara yang bermakna. Penjelasan tutor sebaya kepada temannya lebih memungkinkan berhasil dibandingkan guru. Siswa melihat masalah dengan cara yang berbeda dibandingkan orang dewasa dan mereka menggunakan bahasa yang lebih akrab. Jadi sistem pengajaran dengan tutor  sebaya akan membantu siswa yang kurang mampu atau kurang cepat menerima pelajaran dari gurunya. Kegiatan tutor sebaya bagi siswa merupakan kegiatan yang kaya akan pengalaman yang sebenarnya merupakan kebutuhan siswa itu sendiri. Baik tutor maupun yang ditutori sama-sama diuntungkan, bagi tutor akan mendapat  pengalaman, sedangkan  yang ditutori akan lebih kreatif dalam menerima pelajaran.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dan hasil pengamatan penulis  di  di lapangan, meyakinkan penulis untuk menerapkan tutor sebaya dalam pembelajaran di sekolah. Hal ini akan memudahkan siswa untuk mengeluarkan pendapat atau pikiran  dan kesulitan kepada temannya sendiri daripada kepada guru, siswa lebih sungkan dan malu. Hal tersebut dimungkinkan karena di antara siswa telah terbentuk bahasa mereka sendiri, tingkah laku, dan juga  pertanyaan perasaaan yang dapat diterima oleh semua siswa.
Selain peer tutoring, juga harus dilakukan peer assessment yaitu penilaian kegiatan siswa oleh tutornya, tentu saja dengan kriteria-kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Metode ini dilakukan dengan cara memberdayakan kemampuan siswa yang memiliki daya serap yang tinggi. Siswa tersebut mengajarkan materi dan latihan soal kepada teman-temannya di kelas. Metode ini banyak sekali manfaatnya baik dari sisi siswa yang berperan sebagai tutor maupun bagi siswa yang diajar. Peran guru adalah mengawasi kelancaran pelaksanaan metode ini dengan memberi pengarahan, bimbingan, atau penjelasan bila diperlukan. Meskipun demikian harus diperhatikan oleh guru bahwa metode tutor sebaya memiliki kelemahan, yaitu tidak semua siswa dapat menjelaskan kepada temannya dan tidak semua siswa dapat menjelaskan kepada temannya dan tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan temannya. Berdasarkan paparan di atas, program tutorial pada dasarnya sama dengan program bimbingan, yang bertujuan memberikan bantuan kepada siswa agar dapat mencapai hasil belajar secara optimal.
Hamalik (1990) menyatakan bahwa tutorial adalah bimbingan pembelajaran dalam bentuk pemberian bimbingan, bantuan, petunjuk, arahan, dan motivasi agar para siswa belajar secara efisien dan efektif.  Subyek atau tenaga yang memberikan bimbingan dalam kegiatan tutorial dikenal sebagai tutor. Tutor dapat berasal dari guru atau pengajar, pelatih, pejabat struktural, atau bahkan siswa yang dipilih dan ditugaskan guru untuk membantu teman-temannya dalam belajar di kelas. Siswa yang dipilih guru adalah teman sekelas yang memiliki kemampuan lebih cepat memahami materi yang diajarkan, selain itu juga memiliki kemampuan menjelaskan ulang materi yang diajarkan pada teman-temannya. Karena siswa yang dipilih menjadi tutor ini dengan teman-temannya yang akan diberikan bantuan itu sebaya, maka tutor tersebut sering dikenal dengan sebutan tutor sebaya. Untuk menentukan seorang tutor ada beberapa kriteria yang harus dimiliki oleh seorang siswa yaitu siswa yang dipilih nilai prestasi belajar matematikanya lebih besar atau sama degan delapan, dapat memberikan bimbingan dan penjelasan kepada siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dan memiliki kesabaran serta kemampuan memotivasi siswa dalam belajar.
Hal ini sesuai dengan pendapat Noorhayati (2007) yang menyatakan  bahwa dalam memilih tutor hendaknya memperhatikan tutor dapat diterima oleh siswa yang mendapat program perbaikan sehingga siswa tidak mempunyai rasa takut atau enggan untuk bertanya kepadanya, tutor dapat menerangkan bahan perbaikan yang dibutuhkan oleh siswa yang menerima program perbaikan, tutor tidak tinggi hati, kejam atau keras hati terhadap sesama kawan, tutor mempunyai daya kreativitas yang cukup untuk memberikan bimbingan, yaitu dapat menerangkan pelajaran kepada kawannya, siswa yang ditunjuk sebagai tutor akan ditugasi membantu siswa yang akan mendapat program perbaikan, sehingga setiap tutor harus diberikan petunjuk yang sejelas-jelasnya tentang apa yang harus dilakukan. Petunjuk ini memang mutlak diperlukan bagi setiap tutor karena hanya gurulah yang mengetahui kekurangan siswa, sedangkan tutor hanya membantu melaksanakan perbaikan, bukan mendiagnosis.
Para tutor dilatih untuk mengajarkan bahan berdasarkan silabus yang telah ditentukan. Hubungan antara tutor dengan siswa adalah hubungan antar kakak-adik atau antar kawan, kekakuan yang ada pada guru agar dihilangkan. Dalam kegiatan tutor sebaya, guru menjadi semacam staf ahli yang mampu mengatasi kesulitan yang dihadapai siswa.  Good ( dalam Muntasir 1985) menyatakan bahwa tutor juga dapat menjadi alat untuk menimbulkan motivasi pada pelajaran bermutu. Tutor ini juga memperoleh keuntungan berupa nilai pelajaran yang bertambah baik, sama dengan yang ditutori, terutama kalau fokusnya pada kemampuan kognitif.
Pendekatan tutor sebaya adalah suatu pendekatan pembelajaran di mana yang melakukan kegiatan pembelajaran adalah siswa itu sendiri. Siswa yang memiliki kemampuan lebih cepat menyerap materi pelajaran dapat membantu siswa yang kurang cepat menyerap materi pelajaran. Karena memiliki usia yang hampir sebaya, adakalanya seorang siswa lebih mudah menerima keterangan yang diberikan oleh kawannya yang lain karena tidak merasa enggan atau malu untuk bertanya. Pendekatan tutor sebaya ini cocok untuk mengajarkan matematika, terutama dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan. Apabila pendekatan ini digunakan oleh guru secara baik dengan memberikan bimbingan terlebih dahulu kepada siswa yang akan menjadi tutor, maka pendekatan tutor sebaya ini dapat membantu siswa dalam memahami materi operasi bilangan pecahan, sehingga kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal cerita operasi bilangan pecahan dapat ditingkatkan.
            Hamalik (1998) menyatakan tahap-tahap kegiatan pembelajaran di kelas dengan menggunakan pendekaatan tutor sebaya terdiri dari  tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi. Pada tahap persiapan guru melakukan kegiatan sebagai berikut. Pertama, guru membuat program pengajaran satu pokok bahasan yang dirancang dalam bentuk penggalan-penggalan sub pokok bahasan. Setiap penggalan satu pertemuan yang didalamnya mencakup judul penggalan tujuan pembelajaran, khususnya petunjuk pelaksanaan tugas-tugas yang harus diselesaikan. Kedua, menentukan beberapa orang siswa yang memenuhi kriteria sebagai tutor sebaya. Jumlah tutor sebaya yang di tunjuk disesuaikan dengan jumlah kelompok yang dibentuk. Ketiga, mengadakan latihan bagi para tutor. Dalam pelaksanaan tutorial atau bimbingan ini, siswa yang menjadi tutor bertindak sebagai guru. Sehingga latihan yang diadakan oleh guru merupakan semacam pendidikan guru atau siswa itu. Latihan di adakan dengan dua cara yaitu melalui latihan kelompok kecil dimana dalam hal ini yang mendapatkan latihan hanya siswa yang akan menjadi tutor, dan melalui latihan klasikal, di mana siswa seluruh kelas dilatih bagaimana proses pembimbingan ini berlangsung. Keempat, mengelompokan siswa dalam kelompok-kelompok kecil yang yang terdiri atas 4-6 orang. Kelompok ini disusun berdasarkan variasi tingkat kecerdasan siswa.  Pada tahap pelaksanaan guru memberikan penjelasan terlebih dahulu tentang materi yang di ajarkan, siswa belajar dalam kelompoknya sendiri. Tutor sebaya menanyai anggota kelompoknya secara bergantian akan hal-hal yang belum dimengerti, demikian pula halnya dengan menyelesaikan tugas. Jika ada masalah yang tidak diselesaikan barulah tutor meminta bantuan guru, dan curu mengawasi jalannya proses belajar, guru berpindah-pindah dari satu kelompok ke kelompok yang lain untuk memberikan bantuan jika ada masalah yang tidak dapat diselesaikan dalam kelompoknya. Pada tahap evaluasi, sebelum kegiatan pembelajaran berakhir, guru memberikan soal-soal latihan kepada anggota kelompok (selain tutor) untuk mengetahui apakah tutor sudah menjelaskan tugasnya atau belum, dan mengingatkan siswa untuk mempelajari sub pokok bahasan sebelumnya di rumah.

Integrasi Pembelajaran Remidi dengan Tutor Sebaya
Belajar adalah suasana hati.  Hati yang senang membuat siswa mempunyai kemauan dan motivasi yang tinggi untuk memahami konsep sehingga dengan cara yang tidak memaksakan akan tercipta ketuntasan minimal, baik untuk siswa maupun kelas. Belajar yang menyenangkan tersebut dapat dilakukan dengan model pembimbingan tutor sebaya yang dilakukan dalam pembelajaran remidi. Secara umum langkah yang ditempuh adalah (1) Dalam sebuah pembelajaran kelas tentukan berapa banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar atau belum mencapai ketuntasan minimal.  (2) Dipilih dalam kelas, siswa yang kemampuannya di atas rata-rata kelas dan bertugas sebagai tutor bagi teman-teman dalam kelas yang masih mengalami kesulitan. (3)  Dibuat kelompok dalam kelas yang anggotanya  4-5 siswa dan merupakan sisw-iswa yang belum mencapai ketuntasan belajar. (4) Ditentukan dalam kelompok masing-masing satu orang tutor yang bertugas melakukan pembimbingan kelompok, dan tutor terlebih dahulu mendapat penjelasan seperlunya dari guru sebagai fasilitator. (5) Tutor melakukan pembimbingan berulang-ulang sehingga anggota dalam kelompok betul-betul memahami konsep yang diberikan. (6) Tutor melakukan tes sebagai langkah akhir dalam pembelajaran  yang soal-soal tes ditentukan dan koordinasikan dengan guru (7) Jika dalam evaluasi masih ada anggota kelompok yang belum mencapai ketuntasan belajar, maka tugas tutor adalah melakukan penjelasan secara remidi.

IMPLIKASI YANG DIHARAPKAN
Model pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran remidial  dengan tutor sebaya berimplikasi pada prestasi siswa terutama pada persoalan-persoalan analisis maupun problem posing.  Artinya, siswa yang sulit menyelesaikan secara mandiri, dengan cara berkelompok yang dibimbing tutor  teman dalam kelas dapat dilakukan penyelasaiannya. Khusus yang berkaitan dengan problem posing adalah bagaimana siswa dapat menyusun pertanyaan dan membuat soal berdasarkan data atau permasalahan yang diberikan.
Menurut hasil penelitian  Akrom (2006), Sitti Rahmawati (2006), Rofiqoh Nurhayati (2009),  Sobari Mizan (2006), Ahmad Sudrajat (2008),  dengan melakukan modifikasi pembelajaran remidi dengan tutor sebaya hasil belajar siswa yang ditunjukkan oleh skor ketuntasan individu maupun klasikal mengalami  peningkatan secara signifikan. Meskipun ada beberapa kendala yang harus dierhatikan oleh guru bahwa tidak semua pertanyaan dapat dijawab oleh siswa dan tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan kelompok-kelompok yang dibentuk dalam kelas.

DAFTAR RUJUKAN

_________2008. Pembelajaran Remedial. (online), (http://www,dikmenum.go.id, diakses tanggal 9 Mei 2009)

Ahmad Sudrajat. 2008. Pembelajaran Remedial dalam KTSP. (online), (http://ahmadsudrajat.wordpress.com , diakses 4 Mei 2009).

Arkom. 2004. Penerapan Metode Tutor Sebaya dalam Pembelajaran di SMK. Makalah: Tidak Dipubilkasikan.

Boon R. 2005. Remidiation of Reading, Spelling, and Comprehension. Sidney: Harris Park

Departemen Pendidikan Nasional, 2008. Sistem Penilaian Kurikulum Tingkat Satuan    Pendidikan: Panduuan Pembelajaran Remidial. Jakarta: Depdiknas.

Djalil Aria dkk. 1997. Pembelajaran Kelas Rangkap. Jakarta : Depdikbud.

M. Saleh Muntasir, 1985. Pengajaran Terprogram. Jogjakarta: Karya Anda.

PP Nomor 22 tahun 2006 : Standar Kompetensi Kelulusan Pendidikan Dasar dan Menengah.

Rienties B, Martin Rehm, and J Dijktra, 2005. Remedial online Teaching in Theory and Practice, Netherland: Maastricht University Publ.

Rofiqoh Noorhayati, 2009. Meningkatkan kemampuan Siswa dalam Menyelesaikan Soal-soal Cerita Operasi Bilangan Pecahan dengan Menggunakan Pendekatan Tutor Sebaya pada kelas VIIA SMP Negeri 3 Palangga. (online), (http://www.pendidikan-matematika.blogspot.com, diakses tanggal 10 Mei 2009).


·) Dosen Program Studi Pendidikan Matematika Jurusan Pendidikan MIPA IKIP Budi Utomo Malang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar